KONSEP ASKEP DAN NYERI
BAB I
A.
Latar Belakang
Setiap individu pasti pernah mengalami
nyeri dalam tingkatan tertentu. Nyeri merupakan alasan yang paling umum orang
mencari perawatan kesehatan. Walaupun merupakan salah satu dari gejala yang
paling sering terjadi di bidang medis, nyeri merupakan salah satu yang paling
sedikit dipahami. Individu yang merasakan nyeri merasa menderita dan mencari
upaya untuk menghilangkannya.
Perawat meggunakan berbagai intervensi
untuk dapat menghilangkan nyeri tersebut dan mengembalikan kenyamanan klien.
Perawat tidak dapat melihat dan merasakan nyeri yang dialami oleh klien karena
nyeri bersifat subjektif. Tidak ada dua individu yang mengalami nyeri yang sama
dan tidak ada kejadian nyeri yang sama menghasilkan respon yang identik pada
seseorang.
Nyeri terkait erat dengan kenyamanan
karena nyeri merupakan faktor utama yang menyebabkan ketidaknyamanan pada seorang individu.
Pada sebagian besar klien, sensasi nyeri ditimbulkan oleh suatu cidera atau
rangsangan yang cukup kuat untuk berpotensi mencederai. Bagi dokter nyeri
merupakan masalah yang membingungkan. Tidak ada pemeriksaan untuk mengukur atau
memastikan nyeri. Dokter hampir semata-mata mengandalkan penjelasan dari pasien tentang nyeri dan
keparahannya. Nyeri alasan yang paling sering diberikan oleh klien ditanya
kenapa berobat.
Dampak nyeri pada perasaan
sejahtera klien sudah sedemikian luas diterima sehingga banyak institusi
sekarang menyebut nyeri “tanda vital kelima”, dan mengelompokkannya dengan
tanda-tanda klasik suhu,
nadi, pernapasan, dan tekanan darah.
nyeri dibanding tenaga professional perawatan kesehatan lainnya dan
perawat mempunyai kesempatan untuk membantu menghilangkan nyeri dan efeknya
yang membahayakan. Peran Perawat menghabiskan lebih banyak waktunya bersama
pasien yang mengalami pemberi perawatan primer adalah untuk mengidentifikasi
dan mengobati penyebab nyeri dan meresepkan obat-obatan untuk menghilangkan
nyeri. Perawat tidak hanya berkolaborasi dengan tenaga professional kesehatan
lain tetapi juga memberikan intervensi pereda nyeri, mengevaluasi efektivitas
intervensi pereda nyeri,..
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan nyeri?
2 Bagaimana konsep nyeri dalam
keperawatan?
3. Apa arti dari kenyamanan?
4. Bagaimana konsep kenyamanan dalam
keperawatan
5.Jelaskan metode dan konsep asuhan
keperawatan pada nyeri dan kenyamanan?
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan nyeri?
2 Bagaimana konsep nyeri dalam
keperawatan?
3. Apa arti dari kenyamanan?
4. Bagaimana konsep kenyamanan dalam
keperawatan
5.Jelaskan metode dan konsep asuhan
keperawatan pada nyeri dan kenyamanan?
C.
Tujuan
1.Mengetahui dan memahami makna dan
konsep nyeri
2.Mengetahui dan memahami makna dan konsep
kenyamanan
3. Mengetahui dan memahami konsep dan metode
asuhan keperawatan pada nyeri dan kenyamanan
KONSEP
NYERI DAN KENYAMANAN
BAB II
A.
Nyeri
1. Defenisi
Setiap manusia
dapat mengalami nyeri yang merupakan sensasi tidak enak. Nyeri merupakan hal yang
penting terhadap adanya gangguan fisiologis. Banyak orang yang datang ke rumah
sakit atau puskesmas dengan keluhan nyeri yang biasanya disertai dengan rasa
lainnya seperti rasa tertekan, panas atau dingin. Nyeri secara umum dapat
didefinisikan sebagai suatu rasa yang tidak nyaman, baik ringan maupun berat.
Nyeri dapat juga didefinisikan sebagai kejadian yang bersifat individu sehingga
dalam pengumpulan data, perawat perlu secara seksama mendengarkan keluhan
pasien secara verbal. Nyeri dikaji menurut lokasi, intensitas, waktu,
durasi, dan kualitas serta prilaku non verbal pasien.[1]
Nyeri adalah perasaan yang tidak nyaman yang sangat subjektif dan
hanya orang yang mengalaminya yang dapat menjelaskan dan mengevaluasi perasaan
tersebut (Long, 1996). Secara umum, nyeri dapat didefinisikan sebagai perasaan
tidak nyaman, baik ringan maupun berat (Priharjo, 1992). [2]
Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional
yang tidak menyenangkan
akibat dari kerusakan jaringan yang actual
atau potensial. Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau pengobatan.
Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan banyak orang dibanding suatu penyakit manapun.
Defenisi keperawatan tentang nyeri adalah, apapun yang menyakitkan tubuh
yang dikatakan individu yang mengalaminya, yang ada kapanpun individu
mengatakannya. Peraturan utama dalam merawat pasien dengan nyeri adalah
berdasarkan hanya pada laporan pasien bahwa itu ada. [3]
2. Fisiologi Nyeri
Banyak teori berusaha untuk menjelaskan dasar neurologis dari nyeri,
meskipun tidak ada satu teori yang menjelaskan secara sempurna bagaimana nyeri
ditransmisikan atau diserap. Untuk memudahkan memahami fisiologi nyeri, maka
perlu mempelajari 3 (tiga) komponen fisiologis berikut ini:
a. Resepsi
Stimulus (mekanik, termal, kimia) Pengeluaran histamin bradikinin, kalium Nosiseptor Impuls syaraf Serabut syaraf perifer Kornu dorsalis medula spinalis Neurotransmiter (substansi P) Pusat syaraf di otak Respon reflek protektif. Adanya stimulus yang mengenai tubuh (mekanik, termal, kimia) akan menyebabkan pelepasan substansi kimia seperti histamin, bradikinin, kalium. Substansi tersebut menyebabkan nosiseptor bereaksi, apabila nosiseptor mencapai ambang nyeri, maka akan timbul impuls syaraf yang akan dibawa oleh serabut saraf perifer. Serabut syaraf perifer yang akan membawa impuls syaraf ada dua jenis, yaitu serabut A-delta dan serabut C. impuls syaraf akan di bawa sepanjang serabut syaraf sampai ke kornu dorsalis medulla spinalis. Impuls syaraf tersebut akan menyebabkan kornu dorsalis melepaskan neurotrasmiter (substansi P). Substansi P ini menyebabkan transmisi sinapis dari saraf perifer ke saraf traktus spinotalamus. Hal ini memungkinkan impuls syaraf ditransmisikan lebih jauh ke dalam sistem saraf pusat. Setelah impuls syaraf sampai di otak, otak mengolah impuls syaraf kemudian akan timbul respon refleks protektif.
Stimulus (mekanik, termal, kimia) Pengeluaran histamin bradikinin, kalium Nosiseptor Impuls syaraf Serabut syaraf perifer Kornu dorsalis medula spinalis Neurotransmiter (substansi P) Pusat syaraf di otak Respon reflek protektif. Adanya stimulus yang mengenai tubuh (mekanik, termal, kimia) akan menyebabkan pelepasan substansi kimia seperti histamin, bradikinin, kalium. Substansi tersebut menyebabkan nosiseptor bereaksi, apabila nosiseptor mencapai ambang nyeri, maka akan timbul impuls syaraf yang akan dibawa oleh serabut saraf perifer. Serabut syaraf perifer yang akan membawa impuls syaraf ada dua jenis, yaitu serabut A-delta dan serabut C. impuls syaraf akan di bawa sepanjang serabut syaraf sampai ke kornu dorsalis medulla spinalis. Impuls syaraf tersebut akan menyebabkan kornu dorsalis melepaskan neurotrasmiter (substansi P). Substansi P ini menyebabkan transmisi sinapis dari saraf perifer ke saraf traktus spinotalamus. Hal ini memungkinkan impuls syaraf ditransmisikan lebih jauh ke dalam sistem saraf pusat. Setelah impuls syaraf sampai di otak, otak mengolah impuls syaraf kemudian akan timbul respon refleks protektif.
Contoh:
Apabila tangan terkena setrika, maka akan merasakan sensasi
terbakar, tangan juga melakukan reflek dengan menarik tangan dari permukaan
setrika.
Proses ini akan berjalan jika system saraf perifer dan medulla spinalis utuh atau berfungsi normal. Ada beberapa faktor yang menggangu proses resepsi nyeri, diantaranya sebagai berikut :
Proses ini akan berjalan jika system saraf perifer dan medulla spinalis utuh atau berfungsi normal. Ada beberapa faktor yang menggangu proses resepsi nyeri, diantaranya sebagai berikut :
1.
Trauma
2.
Obat-obatan
3.
Pertumbuhan Tumor
4.
Gangguan Metabolik (penyakit diabetes mellitus)
b.
Persepsi
1.
Fase ini merupakan titik
kesadaran seseorang terhadap nyeri, pada saat individu menjadi sadar akan
nyeri, maka akan terjadi reaksi yang komplek.
2.
Persepsi menyadarkan individu dan mengartikan nyeri
itu sehingga kemudian individu itu dapat bereaksi.
itu sehingga kemudian individu itu dapat bereaksi.
3.
Proses persepsi secara ringkas
adalah sebagai berikut:
Stimulus nyeri Medula spinalis Talamus Otak (area limbik)
Reaksi emosi Pusat otak Persepsi. Stimulus nyeri ditransmisikan ke medula spinalis, naik ke talamus, selanjutnya serabut mentrasmisikan nyeri ke seluruh bagian otak, termasuk area limbik.
Stimulus nyeri Medula spinalis Talamus Otak (area limbik)
Reaksi emosi Pusat otak Persepsi. Stimulus nyeri ditransmisikan ke medula spinalis, naik ke talamus, selanjutnya serabut mentrasmisikan nyeri ke seluruh bagian otak, termasuk area limbik.
·
Area ini mengandung sel-sel
yang yang bisa mengontrol emosi (khususnya ansietas).
·
Area limbik yang akan berperan
dalam memproses reaksi emosi terhadap nyeri. Setelah transmisi syaraf berakhir
di pusat otak, maka individu akan mempersepsikan nyeri.2
Struktur spesifik dalam system saraf terlibat dalam mengubah
stimulus menjadi sensasi nyeri. System ini disebut sebagai system nosiseptik.
1. Transmisi Nyeri
ReseptorNyeri (Nosiseptor),
adalah ujung saraf bebas dalam kulit yang berespon
hanya pada stimulus yang kuat yang secara potensial merusak. Stimuli tersebut
sifatnya bisa mekanik, termal, dan kimia. Reseptor nyerimerupakan jaras multi
arah yang kompleks.
Mediator Kimia dan Nyeri, sejumlah substansi yang mempengaruhi sensitifitas ujung-ujung saraf
atau reseptor nyeri dilepaskan ke jaringan ekstra seluler sebagai akibat dari
kerusakan jaringan. Zat-zat kimiawi yang meningkatkan transmisi atau persepsi
nyeri meliputi histamine, bradikinin, asetilkolin, dansubstansi P.
Prostaglandin adalah zat kimiawi yang diduga dapat meningkatkan sensitifitas
reseptor nyeri dengan meningkatkan efek yang menimbulkan nyeri dari bradikinin.
2. Kornu Dorsalia dan Jaras Asendens
Kornu dorsalis dari medulla spinalis dapat dianggap sebagai tempat
memproses sensori. Serabut perifer misalnya reseptor nyeri berakhir di sini dan
serabut traktus sensori asendens berawal di sini. Juga terdapat interkoneksi
antara system neuronal desendens dan traktus sensori asendens. Traktus asendens
berakhir pada otak bagian bawah dan bagian tengah dan impuls-impuls dipancarkan
ke korteks serebri.
3. Sistem Kontrol Desendens
`System control desenden adalah suatu system serabut berasal dalam
otak bagian bawah dan bagian tengah dan berakhir pada serabut interneuronal
inhibitor dalam kornu dorsalis dari medulla spinalis. System ini kemungkinan
selalu aktif; keadaan aktif ini mencegah transmisi terus –menerus stimulus
nyeri. Sebagian melalui aksi dari endorphin.3
c.
Reaksi
1.
nyeri Reaksi terhadap nyeri
merupakan respon fisioligis dan perilaku yang terjadi setelah mempersepsikan.
2.
Nyeri dengan intensitas ringan
hingga sedang dan nyeri yang superfisial menimbulkan reaksi ”flight atau
fight”, yang merupakan sindrom adaptasi
3.
Stimulasi pada cabang simpatis
pada saraf otonom menghasilkan respon fisiologis, apabila nyeri berlangsung
terus menerus, maka sistem parasimpatis akan bereaksi
4.
Teori-teori
Transmisi Nyeri
JENIS
TEORI
|
RESPON FISIOLOGIS
|
Pola
(pattern)
|
Neyeri terjadi karena efek gabungan dari intensitas stimulus dan
jumlah impuls pada ujung dorsal medula spinalis. Ini tidak termasuk aspek fisiologis
|
TeoriGate Control
|
Impuls nyeri dapat dikendalikan oleh mekanisme gerbang pada ujung
dorsal medula spinalis guna memungkinkan atau menghalangi transmisi impuls
nyeri. Faktor gerbang ini terdiri atas efek impuls yang ditransmisikan
melalui srabut saraf konduksi cepat atau lambat, dan efek impuls yang turun
dari batang otak dan korteks.
|
Transmisi dan inhibisi
|
Stimulus yang mengenai nosiseptor memulai transmisi impuls saraf.
Transmisi impuls nyeri menjadi efektif oleh adanya neurotransmiter yang spesifik.
Inhibisi impuls nyeri menjadi efektif oleh adanya: (1) impuls menuju serabut
besar yang memblok impuls pada serabut-serabut lambat, dan (2) sistem
supresif oplat endogen.
|
5.
Jenis Nyeri
Ada tiga
klasifikasi nyeri yaitu :
a. Nyeri perifer. Nyeri
ini ada tiga macam : (1) nyeri superfisial, yakni rasa nyeri yang muncul akibat
rangsangan pada kulit dan mukosa; (2) nyeri viseral, yakni rasa nyeri yang
muncul akibat stimulasi pada reseptor nyeri di rongga abdomen, kranium, dan toraks;
(3) nyeri alih, yakni nyeri yang dirasakan pada daerah lain yang jauh dari
jaringan penyebab nyeri.
b. Nyeri sentral. Nyeri yang
muncul akibat stimulasi pada medula spinalis, batang otak, dan talamus.
c. Nyeri psikogenik.
Nyeri yang tidak diketahui penyebab fisiknya. Dengan kata lain, nyeri ini
timbul akibat pikiran si penderita sendiri. Seringkali, nyeri ini muncul karena
faktor psikologis, bukan fisiologis.[4][4]
6.
Jenis Rasa Nyeri Beserta Kualitasnya
Rasa nyeri dapat dibagi menjadidua jenis utama : rasa nyeri cepat
dan rasa nyeri
lambat. Bila diberikan
stimulus, rasa nyeri cepat timbul dalam waktu kira-kira 0,1 detik, sedangkan
rasa nyeri lambat timbul setelah 1 detik atau lebih dan kemudian secara
perlahan bertambah selama beberapa detik dan kadangkala bahkan beberapa menit.
Rasa nyeri cepat juga digambarkan dengan banyak nama pengganti, seperti rasa
nyeri tajam, rasa nyeri tertusuk, rasa nyeri akut, dan rasa nyeri
tersetrum. Jenis rasa nyeri ini akan terasa bila sebuah jarum ditusukkan ke
dalam kulit, bila kulit tersayat pisau, atau bila kulit terbakar secara akut.
Rasa nyeri ini juga akan terasa bila subjek mendapat setruman listrik. Rasa
nyeri cepat-tajam tak akan terasa di sebagian besar jaringan dalam dari tubuh.
Rasa nyeri lambat juga mempunyai banyak nama, seperti rasa nyeri
terbakar lambat, nyeri pegal, nyeri berdenyut-denyut, nyeri mual, dan
nyeri kronik. Jenis rasa nyeri ini biasanya dikaitkan dengan kerusakan
jaringan. Rasa nyeri dapat berlangsung lama, menyakitkan dan dapat menjadi
penderitaan yang tak tertahankan. Rasa nyeri ini dapat terasa di kulit dan
hampir semua jaringan dalam dan organ.
7.
Reseptor Nyeri dan Rangsangannya
Reseptor rasa nyeri yang terdapat di kulit dan jaringan lain
semuanya merupakan ujung saraf bebas. Reseptor ini tersebar luas pada permukaan
superfisial kulit dan juga di jaringan dalam tertentu, misalnya periosteum,
dinding arteri, permukaan sendi, dan falks serta tentorium
tempurung kepala. Sebagian besar jaringan dalam lainnya hanya sedikit sekali
dipersarafi oleh ujung saraf rasa nyeri; namun, setiap keruskaan jaringan yang
luas dapat bergabung sehingga pada kebanyakan daerah tersebut akan timbul tipe
rasa nyeri pegal yang lambat dan kronik.
8.
Tiga Jenis Stimulus yang Merangsang Reseptor Nyeri
Rasa nyeri dapat dirasakan melalui berbagai jenis rangsangan. Semua
ini dikelompokkan sebagai rangsang nyeri mekanis, suhu, dan kimiawi.
Pada umumnya, nyeri cepat diperoleh melalui rangsangan jenis mekanis atau
suhu, sedangkan nyeri lambat dapat diperoleh melalui ketiga jenis tersebut.
Bebrapa zat kimia yang merangsang jenis nyeri kimiawi adalah bradikinin,
serotonin, histamin, ion kalium, asam, asetilkolin, dan enzim
proteolitik. Selain itu, prostaglandin dan substansi P meningkatkan
sensitivitas ujung-ujung serabut nyeri tetapi tidak secara langsung
merangsangnya. Substansi kimia terutama penting untuk perangsangan lambat,
jenis rasa nyeri yang menusuk yang terjadi setelah cedera jaringan.
9.
Sifat Nonadaptasi Reseptor Rasa Nyeri
Berbeda dengan kebanyakan reseptor sensorik tubuh lainnya, reseptor
rasa nyeri sedikit sekali beradaptasi dan kadang tidak beradaptasi sama sekali.
Ternyata, pada beberapa kondisi, eksitasi serabut rasa nyeri menjadi semakin
bertambah secara progresif, terutama pada rasa nyeri mual-menusuk-lambat,
karena stimulus rasa nyeri berlangsung terus-menerus. Keadaan ini akan
meningkatkan sensitivitas reseptor rasa nyeri dan disebut hiperalgesia.
10. Kecepatan Kerusakan
Jaringan Sebagai Stimulus Rasa Nyeri
Pada umumnya nyeri akan terasa bila seseorang menerima panas dengan suhu dia
ats 45oC. Ini juga merupakan suhu ketika jaringan mulai mengalami kerusakan
akibat panas; sebenarnya, jaringan akan seluruhnya rusak jika sehu menetap di
atas nilai ini. Oleh karena itu, jelaslah sekarang bahwa rasa nyeri yang
diakibatkan oleh rasa panas sangat erat hubungnnya dengan kecepatan kerusakan
dari jaringan yang terjadi dan tidak berhubungan dengan kerusakan total yang
telah terjadi. Intensitas rasa nyeri juga berhubungan erat dengan kecepatan kerusakan
jaringan yang disebabkan oleh pengaruh selain panas, seperti infeksi bakteri,
iskemia jaringan, kontusio jaringan, dan sebagainya.
11. Makna Khusus dari Stimulus
Kimiawi Penyebab Nyeri selama Kerusakan Jaringan
Ekstrak dari jaringan rusak menyebabkan rasa nyeri yang hebat bila
disuntikkan di bawah kulit normal. Banyak zat kimia yang disebutkan sebelumnya,
yang merangsang reseptor nyeri kimia dapat ditemukan dalam ekstrak-ekstrak ini.
Satu zat kimia yang terlihat mengakibatkan rasa nyeri lebih hebat daripada yang
lain adalah bradikinin. Banyak peneliti yang menduga bahwa bradikinin
mungkin merupakan zat yang bertanggung jawab terhadap penyebab rasa nyeri yang
diikuti kerusakan jaringan. Juga, intensitas nyeri dirasakan berkorelasi dnegan
peningkatan konsentrasi ion kalium setempat atau peningkatan enzim proteolitik
yang dapat secara langsung menyerang ujung-ujung saraf dan menimbulkan rasa
nyeri dengan cara membuat membran saraf tersebut lebih permiabel terhadap
ion-ion.
12. Iskemia Jaringan Sebagai
Penyebab Rasa Nyeri
Bila aliran darah menuju jaringan terhambat, dalam waktu beberapa
menit saja jaringan sering menjadi terasa nyeri sekali. Bila metabolisme
jaringan makin cepat, rasa nyeri yang timbul akan semakin cepat pula.
Contohnya, bila kita lingkarkan manset tekanan darah di sekeliling lengan atas
dan selanjutnya dipompakan udara (inflasi) ke dalam manset sampai aliran darah
arterinya berhenti, bila selanjutnya otot-otot lengan bawah orang percobaan
tersebut digerakkan, kadang dapat timbul nyeri otot dalam waktu 15-20 detik.
Bila otot tadi tidak digerakkan, dalam waktu 3 sampai 4 menit tidak akan timbul
rasa nyeri walau aliran darah ke otot tetap nol.
Diduga, salah satu penyebab rasa nyeri pada keadaan iskemia adalah
terkumpulnya sejumlah besar asam laktat dalam jaringan (metabolisme tanpa
oksigen). Mungkin juga ada bahan-bahan kimiawi lainnya, seperti bradikinin dan
enzim proteolitik yang terbentuk dalam jaringan akibat kerusakan sel, dan bila
bahan-bahan ini selain asam laktat, akan merangsang ujung serabut saraf nyeri.
13. Spasme Otot Sebagai
Penyebab Rasa Nyeri
Spasme otot juga merupakan penyebab umum rasa nyeri, dan meupakan
dasar banyak sindrom/nyeri klinis. Rasa nyeri ini mungkin sebagian disebabkan
secara langsung oleh spasme otot karena terangsangnya reseptor nyeri yang
bersifat mekanosensitif, namun mungkin juga rasa nyeri ini secara tidak
langsung disebabkan oleh pengaruh spasme otot yang menekan pembuluh darah dan
menyebabkan iskemia, keadaan ini merupakan kondisi yang ideal untuk pelepasan
bahan kimiawi pemicu timbulnya rasa nyeri.[5][5]
14. Bentuk Nyeri
Nyeri dapat
dibedakan menjadi nyeri akut dan kronis. Nyeri akut biasanya berlangsung secara
singkat, misalnya nyeri pada patah tulang atau pembedahan abdomen.
Pasien yang mengalami nyeri akut bias menunjukkan gejala-gejala antara lain:
perspirasi meningkat, percepatan jantung dan tekanan darah meningkat , dan
palor. Respon seorang terhadap nyeri bervariasi ada yang sakit. Nyeri kronis
berkembang lebih lambat dan terjadi dalam waktu lebih lama dan pasien sering
sulit mengingat sejak kapan nyeri mulai
dirasakan.
Nyeri juga
dirasakan sebagai nyeri somatogenik atau psikogenik. Nyeri somatogenik
merupakan nyeri secara fisik sedangkan nyeri psikogenik merupakan nyeri psikis
atau mental.1
Secara umum,
bentuk nyeri terbagi atas dua, yaitu :
a. Nyeri akut. Nyeri ini
biasanya berlangsung tidak lebih dari enam bulan. Awitan gejalanya mendadak,
dan biasanya penyebab serta lokasi nyeri sudah diketahui. Nyeri akut ditandai
dengan peningkatan tegangan otot dan kecemasan yang keduanya meningkatkan
persepsi nyeri 4. Nyeri akut biasanya awitannya tiba-tiba dan umumnya berkaitan dengan
cedera fisik. Nyeri akut mengindikasikan bahwa kerusakan atau cedera telah
terjadi. Hal ini menarik perhatian pada kenyataan bahwa nyeri ini benar terjadi
dan mengajarkan kepada kita untuk menghindari situasi serupa yang secara
potensial menimbulkan nyeri. Jika kerusakan tidak lama terjadi dan tidak ada
penyakit sistematik, nyeri akut biasanya menurun sejalan dengan terjadinya
penyembuhan, nyeri ini umumnya terjadi
kurang dari enam bulan dan biasanya kurang dari satu bulan. Cedera atau
penyakit yang menyebabkan nyeri akut dapat sembuh secara spontan atau dapat
memerlukan pengobatan. Sebagai contoh, jari yang tertusuk biasanya sembuh
dengan cepat, dengan nyeri yang hilang dengan cepat, barangkali dalam beberapa
detik atau beberapa menit. Pada kasus dengan
kondisi lebih berat, seperti fraktur ekstremitas, pengobatan dibutuhkan
dengan nyeri menurun sejalan dengan penyembuhan tulang.3
b.
Nyeri kronis. Nyeri ini berlangsung
lebih dari enam bulan. Sumber nyeri bisa diketahui atau tidak. Nyeri cenderung
hilang timbul dan biasanya tidak dapat disembuhkan. Selain itu, penginderaan
nyeri menjadi lebih dalam sehingga penderita sukar untuk menentukan lokasinya.
Dampak dari nyeri ini antara lain penderita menjadi lebih mudah tersinggung dan
sering mengalami insomnia. Akibatnya, mereka menjadi kurang perhatian, sering
merasa putus asa, dan terisolir dari kerabat dan keluarga. Nyeri kronis
biasanya hilang timbul dalam periode waktu tertentu. Ada kalanya penderita
terbebas dari rasa nyeri (mis: sakit kepala migrain) 4. Nyeri
kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang suatu
periode waktu. Nyeri ini berlangsung di luar waktu penyembuhan yang
diperkirakan dan sering tidak dapat dikaitkan dengan penyebab atau cedera
pesifik.
3 Brunner dan Suddarth, Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta, EGC.
2002, Hal 213
4 Wahit Iqbal Mubarak dan Nurul Cahyatin, Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta, EGC.2000,hal 204-212
Nyeri kronis dapat tidak mempunyai awitan yang ditetapkan dengan
tepat dan sering sulit untuk diobati karena biasanya nyeri ini tidak memberikan
respons pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya. Meski nyeri akut dapat
menjadi signal yang sangat penting bahwa sesuatu tidak berjalan sebagaimana
mestinya, nyeri kronis biasanya menjadi masalah dengan sendirinya. Nyeri
kronis sering didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung selama enam bulan
atau lebih meskipun enam bulan merupakan suatu periode yang dapat berubah untuk membedakan antara
nyeri akut dan nyeri kronis. Suatu episode nyeri dapat membuat karakteristik
nyeri kronis sebelum enam bulan telah berlalu atau beberapa jenis nyeri dapat
tetap bersifat akut secara primer selama lebih dari enambulan.
Meskipundemikian, setelah enam bulan banyak nyeri yang dialami banyak
masalah-masalah yang berhubungan dengan nyeri itu sendiri. Nyeri kronis tidak
mempunyai tujuan yang berguna dan jika hal ini menetap, ini menjadi gangguan
utama. Meskipun tidak diketahui mengapa banyak orang menderita nyeri kronis
setelah suatu cedera atau proses penyakit, hal ini diduga bahwa ujung-ujung
saraf yang normalnya tidak mentransmisikan nyeri menjadi mampu untuk
mencetuskan sensasi nyeri atau ujung-ujung saraf yang hanya mentransmisikan
stimulus yang sebelumnya tidak nyeri sebagai stimulus yang sangat nyeri.3
15. Efek Membahayakan dari
Nyeri
a.
Nyeri akut, Tanpa
melihat sifat, pola atau penyebab nyeri, nyeri yang tidak diatasi secara
adekuat mempunyai efek yang membahayakan di luar ketidaknyamanan yang disebabkannya. Selain merasakan
ketidaknyamanan dan mengganggu, nyeri akut yang tidak reda dapat mempengaruhi
system pulmonary, kardiovaskuler, gastrointestinal, endokrin, imunologi.
Respon stress (“respons neuroendokrin terhadap stress”) yang terjadi
dengan trauma terjadi dengan penyebab nyeri hebat lainnya. Luasnya perubahan
endokrin, imunologi dan inflamasi yang terjadi dengan stress dapat menimbulkan
efek negative yang signifikan. Hal ini khususnya terjadi pada pasien yang
terganggu karenausia, penyakit atau cedera.
b. Nyeri kronis, Sama
seperti halnya nyeri akut yang mempunyai efek negatif, nyeri kronis juga
mempunyai efek yang merugikan. Supresi fungsi imun yang berkaitan dengan nyeri
kronis dapat menyebabkan pertumbuhan tumor. Nyeri kronis sering mengakibatkan
depresi dan ketidakmampuan .Pasien mungkin tidak mampu untuk melanjutkan
aktivitas dan melakukan hubungan interpersonal sebelum nyeri mulai terjadi.3
16. Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Nyeri
Faktor-faktor yang
mempengaruhi nyeri antara lain adalah :
a. Etnik
dan nilai budaya. Latar belakang etnik dan budaya merupakan faktor yang
memengaruhi reaksi terhadap nyeri dan ekspresi nyeri. Sebagai contoh, individu
dari budaya lain justru lebih memilih menahan perasaan mereka dan tidak ingin
merepotkan orang lain.
b. Tahap
perkembangan. Usia dan tahap perkembangan seseorang merupakan variabel
penting yang akan memengaruhi reaksi dan ekspresi terhadap nyeri. Dalam hal
ini, anak-anak cenderung kurang mampu mengungkapkan nyeri yang mereka rasakan
dibandingkan orang dewasa, dan kondisi ini dapat menghambat penanganan nyeri
untuk mereka. Di sisi lain, prevalensi nyeri pada individu lansi lebih tinggi
karena penyakit akut atau kronis yang mereka derita. Walaupun ambang batas
nyeri tidak berubah karena penuaan, tetapi efek analgesik yang diberikan menurun
karena perubahan fisiologis yang terjadi.
c. Lingkungan
dan individu pendukung. Lingkungan yang bising, tingkat
kebisingan yang tinggi, pencahayaan, dan aktivitas yang tinggi di lingkungan
tersebut dapat memperberat nyeri. Selain itu, dukungan dari keluarga dan orang
terdekat menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi persepsi nyeri
individu. Sebagai contoh, individu yang senidirian, tanpa keluarga atau
teman-teman yang mendukungnya, cenderung merasakan nyeri yang lebih berat
dibandingkan mereka yang mendapat dukungan dari keluarga dan orang-orang
terdekat.
d. Pengalaman
nyeri sebelumnya. Pengalaman masa lalu juga berpengaruh terhadap persepsi
nyeri individu dan kepekaannnya terhadap nyeri. Individu yang pernah mengalami
nyeri atau menyaksikan penderitaan orang terdekatnya saat mengalami nyeri
cenderung merasa terancam dengan peristiwa nyeri yang akan terjadi dibandingkan
individu lain yang belum pernah mengalaminya. Selain itu, keberhasilan atau
kegagalan metode penanganan nyeri sebelumnya juga berpengaruh terhadap harapan
individu terhadap penanganan nyeri saat ini.
e.
Ansietas dan stres. Ansietas
seringkali menyertai peristiwa nyeri yang terjadi. Ancaman yang tidak jelas
asalnya dan ketidakmampuan mengontrol nyeri atau peristiwa di sekelilingnya
dapat memperberat persepsi nyeri. Sebaliknya, individu yang percaya bahwa
mereka mampu mengontrol nyeri yang mereka rasakan akan mengalami penurunan rasa
takut dan kecemasan yang akan menurunkan
persepsi nyeri mereka.4
17. Pengobatan Nyeri
Upaya pertama adalah untuk mengobati penyakit yang menimbulkan
nyerinya, jika bisa. Namun sambil mencari alasan atau obat yang cocok, kita
sebaiknya juga mengobati gejala dengan
Penanganan nyeri
tergantung dari derajat rasa nyeri serta tanggapan pada obat analgesik.
Pemberian dan penggantian obat analgesik dilakukan
secara bertahap. Tahapan digambarkan dengan Jenjang Analgesik dengan tiga tahap
atau langkah.
Langkah pertama
mencakup obat analgesik nonnarkotik, misalnya aspirin atau parasetamol.
Perhatikan:
parasetamol (mis. Panadol) sebaiknya dihindari oleh orang dengan hepatitis. Langkah kedua memberi narkotik lemah, misalnya
kodein, bila dibutuhkan dengan tetap diberi analgesik biasa. Sedang pada
langkah tertinggi, diberikan obat narkotik kuat, misalnya morfin, sekali lagi
dengan analgesik biasa bila dibutuhkan.
Obat analgesik
juga dapat ditambah dengan adjuvan, obat untuk membantu
khasiat obat pokok. Adjuvan dapat termasuk obat bius lokal,
steroid, dan obat antimual, serta juga terapi penunjang yang
dibahas di atas.
Jenis obat
analgesik yang diberi dapat dinaikkan ke langkah berikutnya bila tidak ada
perbaikan dengan penggunaan takaran yang dianjurkan.
Sebaliknya, bila diberi analgesik langkah ketiga dan nyeri mulai hilang, obat
diganti dengan obat jenis langkah kedua dulu, terus (bila nyeri masih tetap
ringan) dengan obat jenis langkah pertama, terus dihentikan bila masalahnya
hilang total. Jangan langsung berhenti memakai obat pada langkah kedua atau
ketiga.
Biasanya, obat diberikan waktu kita merasa nyeri. Ini dapat berarti
bahwa waktu nyeri diobati, dibutuhkan takaran besar, dengan kemungkinan ada
efek samping. Beberapa ahli nyeri menganggap bahwa cara terbaik untuk menawar
nyeri adalah dengan memberi obat pada jadwal tetap, dengan takaran tetap,
sebelum rasa nyeri dialami.[6][6]
B. Kenyamanan
1.
Defenisi
Kenyamanan adalah konsep sentral tentang kiat keperawatan. Donahue
(1989) menyatakan ‘melalui rasa nyaman dan tindakan untuk mengupayakan
kenyamanan perawat memberikan kekuatan, harapan, hiburan, dorongan dan bantuan
bagi klien’. Dari pernyataan itu di dapat bahwa kenyamanan merupakan kebutuhan
dasar klien untuk perawat agar dapat membantu tindakan keperwatan. Kenyamanan
bersifat subjektif karena setiap individu memiliki fisiologis, social,
spiritual dan kebudayaan yang berbeda sehingga mempengaruhi cara mereka untuk
menginterprestasikan dan merasakan kenyamanan tersebut. 7
2.
Konsep Metaparadigma Kolcoba
a)
Keperawatan
Keperawatan adalah penilaian kebutuhan
akan kenyamanan, perancangan kenyamanan digunakan untuk mengukur suatu
kebutuhan, dan penilaian kembali digunakan untuk mengukur kenyamanan setelah
dilakukan implementasi. Penilaian dan penilaian kembali dapat dinilai secara
subjektif, seperti ketika perawat menanyakan keamanan pasien, atau secara
objektif seperti observasi menyembuhkan luka, perubahan nilai laboratorium,
atau perubahan perilaku. Penilaian juga dapat melalui rangkaian penilaian skala
melalui penglihatan atau daftar pertanyaan, yang mana kedua-duanya telah
dikembangkan oleh kolcaba.
b)
Pasien
Penerima perawatan seperti individu, keluarga,
institusi, atau masyarakat yang membutuhkan perawatan kesehatan.
c)
Lingkungan
Lingkungan adalah banyak aspek tentang pasien,
keluarga, atau instutitusi melingkupi tindakan oleh perawat atau orang tercinta
untuk meningkatkan kenyamanan.
d) Kesehatan
Kesehatan
adalah jumlah yang berfungsi secara optimal, seperti yang digambarkan oleh
pasien atau kelompok, atau suatu pasien, keluarga, atau masyarakat.
3. Asumsi
a)
Manusia mempunyai tanggapan holistic untuk stimulus
yang kompleks.
b)
Kenyamanan adalah suatu hasil holistic yang
diinginkan yang mengacu pada disiplin keperawatan.
c)
Manusia bekerja keras untuk menemukan kenyamanan
dasar mereka, yang didapatkan dari usaha yang giat.
d)
Kenyamanan yang akan ditingkatkan pada pasien harus
melibatkan HSBs pilihan mereka.
e)
Pasien dianjurkan dengan aktif pada HSBs yang telah
ditetapkan dengan pelayanan kesehatan mereka.
f)
Integritas kelembagaan adalah dasar dari sistem nilai
bagi penerima perawatan.
4. Pernyataan teoritis
a)
Perawat mengidentifikasi kebutuhan kenyamanan
yang tidak terlihat dari pasien, desain kenyamanan digunakan untuk mengukur
kebutuhan, dan untuk mencari peningkatkan kenyamanan pasien mereka, di mana
hasil tersebut diinginkan dengan segera.
b)
Peningkatan kenyamanan langsung dan secara positif
dihubungkan dengan penerapan di dalam HSBs, seperti hasil yang diinginkan
sebelumnya.
c)
Kapan seseorang mempunyai pendukung yang sesuai untuk
dilibatkan secara penuh di dalam HSBs, seperti pemulihan dan/atau program
penyembuhan atau cara hidup, integritas institusi juga sangat mendukung. 8
Kolcaba (1992)
mendefinisikan kenyamanan sebagai suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan
dasar manusia. Suatu cara pandang yang holistic tentang keyamanan membantu
dalam upaya mengidentifikasi 4 konteks, yaitu :
1.
Fisik, berhubungan dengan sensasi tubuh
2.
Sosial, berhubungan dengan interpersonal, keluarga dan sosial
3.
Psikospiritual, berhubungan dengan kewaspadaan
internal di dalam diri sendiri, meliputi harga diri, seksualitas dan makna hidup.
4.
Lingkungan, berhubungan dengan latar belakang
pengalaman eksternal manusia seperti cahaya, bunyi, temperature, warna dan
unsur alamiah.
Penilaian tentang konteks kenyamanan memberikan seorang perawat rentang pilihan yang lebih luas dalam mencari tindakan untuk menanggulangi nyeri. [7][7]
Penilaian tentang konteks kenyamanan memberikan seorang perawat rentang pilihan yang lebih luas dalam mencari tindakan untuk menanggulangi nyeri. [7][7]
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA NYERI DAN KENYAMANAN
A.
Pengkajian
Pengkajian keperawatan terhadap individu dengan nyeri termasuk deskripsi
nyeri juga faktor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi nyeri dan respon
individu terhadap strategi pereda nyeri.3
Pengkajian nyeri
yang factual dan akurat dibutuhkan untuk:
1.
Menetapkan data dasar
2.
Menegakkan diagnosa keperawatan yang tepat
3.
Menyeleksi terapi yang cocok
4.
Mengevaluasi respon klien terhadap terapi yang
diberikan
Perawat harus
menggali pengalaman nyeri dari sudut pandang klien. Keuntungan pengkajian nyeri
bagi klien adalah bahwa nyeri diidentifikasi, dikenali sebagai sesuatu yang
nyata, dapat diukur, dapat djelaskan, serta digunakan untuk mengevaluasi perawatan.
Hal-hal yang perlu dikaji adalah sebagai berikut:
Hal-hal yang perlu dikaji adalah sebagai berikut:
1. Ekspresi
klien terhadap nyeri
Banyak
klien tidak melaporkan/mendiskusikan kondisi ketidaknyamanan. Untuk itulah
perawat harus mempelajari cara verbal dan nonverbal klien dalam
mengkomunikasikan rasa ketidaknyamanan. Klien yang tidak mampu berkomunikasi
efektif seringkali membutuhkan perhatian khusus ketika pengkajian.
2. Klasifikasi pengalaman nyeri
Perawat
mengkaji apakah nyeri yang dirasakan klien akut atau kronik. Apabila akut, maka
dibutuhkan pengkajian yang rinci tentang karakteristik nyeri dan apabila nyeri
bersifat kronik, maka perawat menentukan apakah nyeri berlangsung intermiten,
persisten atau terbatas.
3. Karakteristik
nyeri
a. Onset dan durasi
Perawat mengkaji sudah berapa lama nyeri dirasakan, seberapa sering nyeri kambuh, dan apakah munculnya nyeri itu pada waktu yang sama
Perawat mengkaji sudah berapa lama nyeri dirasakan, seberapa sering nyeri kambuh, dan apakah munculnya nyeri itu pada waktu yang sama
b. Lokasi
Perawat meminta klien untuk menunjukkan dimana nyeri terasa, menetap atau terasa pada menyebar
Perawat meminta klien untuk menunjukkan dimana nyeri terasa, menetap atau terasa pada menyebar
c. Keparahan
Perawat meminta klien menggambarkan seberapa parah nyeri yang dirasakan. Untuk memperoleh data ini perawt bias menggunakan alat bantu, skala ukur. Klien ditunjukkan skala ukur, kemudian disuruh memilih yang sesuai dengan kondisinya saat ini yang mana. Skala ukur bis berupa skala numerik, deskriptif, analog visual. Untuk anak-anak skala yang digunakan adalah skala oucher yang dikembangkan oleh Beyer dan skala wajah yang dikembangkan oleh Wong & Baker. Pada skala oucher terdiri dari skala dengan nilai 0-100 pada sisi sebelah kiri untuk anak-anak yang lebih besar dan skala fotografik enam gambar pada sisi kanan untuk anak yang lebih kecil. Foto wajah seorang anak dengan peningkatan rasa ketidaknyamanan dirancang sebagai petunjuk untuk memberi anak-anak pengertian sehingga dapat memahami makna dan keparahan nyeri. Anak bisa diminta untuk mendiskripsikan nyeri yang dirasakan dengan memilih gambar yang ada. Skala wajah terdiri dari enam wajah dengan profil kartun yang menggambarkan wajah dari wajah yang sedang tersenyum (tidak merasa nyeri), kemudian secara bertahap meningkat sampai wajah yang sangat ketakutan (nyeri yang sangat).
Perawat meminta klien menggambarkan seberapa parah nyeri yang dirasakan. Untuk memperoleh data ini perawt bias menggunakan alat bantu, skala ukur. Klien ditunjukkan skala ukur, kemudian disuruh memilih yang sesuai dengan kondisinya saat ini yang mana. Skala ukur bis berupa skala numerik, deskriptif, analog visual. Untuk anak-anak skala yang digunakan adalah skala oucher yang dikembangkan oleh Beyer dan skala wajah yang dikembangkan oleh Wong & Baker. Pada skala oucher terdiri dari skala dengan nilai 0-100 pada sisi sebelah kiri untuk anak-anak yang lebih besar dan skala fotografik enam gambar pada sisi kanan untuk anak yang lebih kecil. Foto wajah seorang anak dengan peningkatan rasa ketidaknyamanan dirancang sebagai petunjuk untuk memberi anak-anak pengertian sehingga dapat memahami makna dan keparahan nyeri. Anak bisa diminta untuk mendiskripsikan nyeri yang dirasakan dengan memilih gambar yang ada. Skala wajah terdiri dari enam wajah dengan profil kartun yang menggambarkan wajah dari wajah yang sedang tersenyum (tidak merasa nyeri), kemudian secara bertahap meningkat sampai wajah yang sangat ketakutan (nyeri yang sangat).
1)
Deskripsi Verbal tentang Nyeri
Individu merupakan penilai terbaik dari nyeri yang dialaminya dan
karenanya harus diminta untuk menggambarkan dan membuat tingkatnya. Informasi
yang diperlukan harus menggambarkan nyeri individual dalam beberapa cara yang
berikut:
a)
Intensitas nyeri
Individu dapat diminta untuk membuat tingkatan nyeri pada skala verbal
(mis : tidak nyeri, sedikit nyeri, nyeri hebat, atau sangat hebat; atau 0
sampai 10:0 = nyeri sangat hebat)
b)
Karakteristik nyeri
Termasuk letak, durasi (menit, jam, hari, bulan, dsb), irama (mis :
terus menerus, hilang, timbul, periode bertambah dan berkurangnya intensitas
atau keberadaan nyeri) dan kualitas (mis : nyeri seperti ditusuk, seperti
terbakar, sakit, nyeri seperti digencet).
c)
Faktor-faktor yang meredakan nyeri
(Mis: gerakan, kurang bergerak, pengerahan tenaga, istrahat, obat-obat
bebas, dsb.) dan apa yang dipercaya pasien dapat membantu mengatasi nyerinya.
Banyak orang yang mempunyai ide-ide tertentu tentang apa yang akan
menghilangkan nyerinya. Perilaku ini sering didasarkan pada pengalaman.
d)
Efek nyeri terhadap aktivitas kehidupan sehari-hari
(Mis : tidur, nafsu makan, konsentrasi, interaksi dengan orang lain,
gerakan fisik, bekerja dan aktivitas-aktivitas santai). Nyeri akut sering
berkaitan dengan ansietas dan nyeri kronis dengan depresi.
e)
Kekhawatiran individu tentang nyeri
Dapat meliputi berbagai masalah yang luas, seperti beban ekonomi,
prognosis, pengaruh terhadap peran dan perubahan citra diri.3
2)
Skala Nyeri
a)
Kualitas
Minta klien menggambarkan nyeri yang dirasakan, biarkan klien mendiskripsikan apa yang dirasakan sesuai dengan kata-katanya sendiri.
Minta klien menggambarkan nyeri yang dirasakan, biarkan klien mendiskripsikan apa yang dirasakan sesuai dengan kata-katanya sendiri.
3 Brunner dan Suddarth, Keperawatan
Medikal-Bedah. Jakarta, EGC. 2002, Hal 217
Perawat boleh
memberikan deskripsi pada klien, bila klien tidak mampu menggambarkan nyeri
yang dirasakan.
b)
Pola nyeri
Perawat meminta
klien untuk mendiskripsikan ativitas yang menyebabkan nyeri dan meminta lien
untuk mendemontrasikan aktivitas yang bisa menimbulkan nyeri.
c)
Cara mengatasi
Tanyakan pada
klien tindakan yang dilakukan apabila nyerinya muncul dan kaji juga apakah
tindakan yang dilakukan klien itu bisa efektif untuk mengurangi nyeri.
d)
Tanda lain yang menyertai
Kaji adanya
penyerta nyeri, seperti mual, muntah, konstipasi, gelisah, keinginan untuk
miksi dll. Gejala penyerta memerlukan prioritas penanganan yang sama dengan
nyeri itu sendiri.9
e)
Pedoman untuk menggunakan skala pengkajian nyeri
Skala yang menunjukkan letak dan pola nyeri dapat berguna bagi perawat
rumah dalam mengidentifikasi sumber atau tempat nyeri baru pada pasien yang
sakit kronis atau pasien sakit terminal dan dalam memantau perubahan tingkat
nyeri pasien. Pasien dan keluarga yang memberi perawatan dapat diajari cata
menggunakan skala pengkajian nyeri untuk mengkaji dan mengatasi nyeri pasien.
Perawat rumah yang mengunjungi pasien hanya pada interval waktu tertentu dapat
menggunakan catatan tertulis nilai nyeri dalam mengevaluasi seberapa efektif
strategi penatalaksanaan nyeri yang telah dijalani. Pada suatu kesempatan,
seseorang akan menyangkal merasakan nyeri ketika kebanyakan orang dalam keadaan
yang sama akan melaporkan nyeri yang signifikan.
3)
Mengkaji respon fisiologik dan perilaku terhadap nyeri
Mengkaji indikasi fisiologis dan perilaku dari nyeri terkadang sulit, jika
tidak mungkin. Indikator fisiologis dan perilaku nyeri yang dapat diamati dapat
saja minimal atau tidak ada; namun demikian, hal ini bukanlah berarti bahwa
pasien tidak mengalami nyeri.
a)
Indikator fisiologis nyeri
Perubahan fisiologis involunter dianggap sebagai indikator nyeri yang
lebih akurat dibanding laporan verbal pasien. Bagaimanapun, respon involunter
ini seperti meningkatnya frekunsi nadi dan pernapasan, pucat dan berkeringat
adalah indicator rangsangan system saraf otonom, bukan nyeri.
b)
Respon perilaku terhadap nyeri
Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup pernyataan verbal,
perilaku vocal, ekspresi wajah, gerakan tubuh, kontak fisik dengan orang lain,
atau perubahan respon terhadap respon lingkungan.
4)
Faktor-faktor yang mempengaruhi respon nyeri
a)
Pengalaman masa lalu dengan nyeri
Adalah menarik untuk berharap dimana individu yang mempunyai pengalaman
multipel dan berkepanjangan dengan nyeri akan lebih sedikit gelisah dan lebih
toleran terhadap nyeri dibanding orang yang hanya mengalami sedikit nyeri.
b)
Ansietas dan nyeri
Meskipun umum diyakini bahwa ansietas akan meningkatkan nyeri, mungkin
tidak seluruhnya benar dalam semua keadaan. Riset tidak memperlihatkan suatu
hubungan yang konsisten antara ansietas dan nyeri juga tidak memperlihatkan
bahwa pelatihan pengurangn stress praoperatif menurunkan nyeri saat pasca
operatif. Namun, ansietas yang relevan atau berhubungan dengan nyeri dapat
meningkatkan persepsi pasien terhadap nyeri.
c)
Budaya dan Nyeri
Budaya dan etniksitas mempunyai pengaruh pada bagaimana seseorang
berespon terhadap nyeri (bagaimana nyeri diuraikan atau seseprang berperilaku
dalam berespons terhadap nyeri). Namun, budaya dan etnik tidak mempengaruhi
persepsi nyeri.
d)
Usia dan Nyeri
Pengaruh usia pada persepsi nyeri dan toleransi nyeri tidak diketahui
secara luas. Pengkajian nyeri pada lansia mungkin sulit karena perubahan
fisiologis dan psikologis yang menyertai prose penuaan. Cara lansia berespon terhadap
nyeri dapat berbeda dengan cara berespon orang yang berusia lebih muda. Atau
nyeri pada lansia mungkin dialihkan jauh dari tempat cedera atau penyakit.
Persepsi pada lansia mungkin berkurang sebagai akibat dari perubahan patologis
berkaitan dengan beberapa penyakit (mis : DM), tetapi pada individu lansia yang
sehat persepsi nyeri mungkin tidak berubah. Karena individu lansia mempunyai
metabolisme yang lebih lambat dan rasio lemak tubuh terhadap massa otot lebih
besar dibanding individu berusia lebih muda, analgesic dosis kecil mungkin
cukup untuk menghilangkan nyeri. Bila diberikan kesempatan untuk menggunakan
sendiri analgesic pascaoperatif, lansia menunjukkan keberhasilan peredaan nyeri
dengan dosis opioid yang lebih kecil.
e)
Efek placebo
Efek placebo terjadi ketika seseorang berespon terhadap pengobatan atau
tindakan lain karena suatu harapan bahwa pengobatan atau tindakan tersebut akan
memberikan hasil bukan karena tindakan atau pengobatan tersebut benar-benar
bekerja. Menerima pengobatan atau tindakan saja sudah memberikan efek positif.
Efek placebo timbul dari produksi alamiah (endogen) endorphin dalam system
control desenden. Efek ini merupakan respons fisiologis sejati yang dapat
diputar balik oleh nalokson, suatu antagonis narkotik. 3
B. Diagnosa
1)
Nyeri kronik berhubungan dengan :
a) Proses keganasan
b) Jaringan perut
c) Kontrol nyeri yang tidak adekuat
2)
Cemas berhubungan dengan nyeri yang dirasakan
3)
Nyeri akut berhubungan dengan fraktur panggul
4)
Koping individu tidak efektif berhubungan dengan nyeri
kronik
5)
Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
muskuloskeletal
6)
Resiko injuri berhubungan dengan kekurangan persepsi
terhadap nyeri
7)
Ansietas yang berhubungan dengan nyeri yang tidak
hilang.
8)
Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan nyeri
muskuloskeletal
9)
Disfungsi seksual yang berhubungan dengan
nyeri arthritis panggul
10) Gangguan pola tidur yang berhubungan
dengan nyeri punggung bagian bawah
11) Ketidakberdayaan yang berhubungan dengan
nyeri maligna kronik.
12) Nyeri adalah yang berhubungan
dengan :
a) Cedera fisik
atau trauma
b) Penurunan
suplai darah ke jaringan
c) Proses
melahirkan normal. 9
C. Intervensi
1)
Mengidentifikasi tujuan untuk penatalaksanaan nyeri
Informasi yang diperoleh perawat melalui pengkajian pasien digunakan
untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan menangani nyeri. Tujuan yang
diidentifikasi didiskusikan atau divalidasi bersama pasien. Bagi beberapa
pasien, tujuan dapat merupakan peredaan nyeri total. Namun, begitu, bagi banyak
orang harapan ini adalah tidak realistic. Tujuan lainnya dapat mencakup
penurunan intensitas, durasi atau frekuensi dari nyeri dan menurunkan efek-efek
negatif nyeri yang ada pada pasien.
2)
Hubungan perawat-pasien dan penyuluhan pasien
Dua tindakan keperawatan yang menjadi dasar dari semua penatalaksanaan
nyeri lainnya adalah:
a) Hubungan
perawat-klien
b) Penyuluhan pada
pasien tentang nyeri dan cara meredakannya.
Hubungan perawat-klien yang positif dan penyuluhan merupakan kunci dari
penatalaksanaan analgesia pada pasien yang mengalami nyeri karena komunikasi
yang terbuka dan kerja sama pasien penting untuk keberhasilannya. Penyuluhan
sama pentingnya karena pasien atau keluarga mungkin bertanggung jawab terhadap
penanganan nyeri di rumah dan mencegah serta menangani efek samping.
3)
Memberikan perawatan fisik
Pasien dengan nyeri mungkin tidak mampu untuk melakukan aktivitas
sehari-hari yang lazim atau untuk melakukan perawatan diri yang lazim.
Karenanya, penting artinya untuk membantu individu yang nyerinya mengganggu
perawatan diri untuk menjalani aktivitas ini. Pasien sering lebih nyaman saat
kebutuhan fisik dan perawatan dirinya terpenuhi dan upaya telah dibuat untuk
memastikan posisinya senyaman mungkin. Baju yang bersih dan mengganti linen
tempat tidur sejalan dengan upaya untuk membuat pasien merasa segar (mis :
menyikat gigi, menyisir rambut) sering meningkatkan tingkat kenyamanan dan
meningkatkan keefektifan tindakan pereda nyeri. Pemberian perawatan fisik pada
pasien juga memberikan kesempatan pada perawat untuk melakukan pengkajian
secara lengkap dan untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin
memperberat rasa tidak nyaman dan nyeri pada pasien. Sentuhan fisik yang sesuai
dan lembut selama merawat dapat menenangkan dan menyenangkan.
4)
Menangani ansietas yang berhubungan dengan nyeri
Ansietas dapat mempengaruhi respon pasien terhadap nyeri. Pasien yang
mengantisipasi nyeri lebih cemas. Mengajarkan pasien tentang sifat dari
pengalaman nyeri yang akan dialami dan cara-cara yang ada untuk menurunkan
nyeri sering menurunkan ansietas. Orang yang mengalami nyeri akan menggunakn
strategi yang dipelajari sebelumnya untuk mengurangi nyeri. Pembelajaran
tentang tindakan pereda nyeri dapat mengurangi ancaman nyeri dan memberikan
individu indera kendali. 3
D. Implementasi
1) Mengurangi faktor yang dapat
menambah nyeri, misalnya ketidakpercayaan, kesalahpahaman, ketakutan, kelelahan
dan kebosanan.
a) Ketidakpercayaan.
Pengakuan perawat
akan rasa nyeri yang di derita pasien dapat mengurangi nyeri. Hal ini dapat
dilakukan melalui pernyataan verbal, mendengarkan dengan penuh perhatian
mengenai keluhan nyeri pasien, dan mengatakan pada pasien bahwa perawat
mengkaji rasa nyeri pasien agar dapat lebih memahami tentang nyerinya.
b) Kesalahpahaman.
Mengurangi
kesalahpahaman pasien tentang nyerinya akan mengurangi nyeri. Hal ini dilakukan
dengan memberitahu pasien bahwa nyeri yang dialami sangat individual dan hanya
pasien yang tahu secara pasti tentang nyerinya.
c) Ketakutan.
Memberikan
informasi yang tepat dapat mengurangi ketakutan pasien dengan menganjurkan
pasien untuk mengekpresikan bagaimana mereka menangani nyeri.
d) Kelelahan.
Kelelahan dapat
memperberat nyeri. Untuk mengatasinya, kembangkan pola aktivitas yang dapat
memberikan istirahat yang cukup.
e) Kebosanan.
Kebosanan dapat
meningkatkan rasa nyeri. Untuk mengurangi nyeri dapat digunakan pengalih
perhatian yang bersifat terapeutik.
2) Memodifikasi stimulus nyeri
dengan menggunakan teknik-teknik seperti :
a) Tehnik latihan pengalihan
1. Menonton televisi
2. Berbincang-bincang dengan orang lain
3. Mendengarkan musik
b)
Tehnik relaksasi
Menganjurkan pasien
untuk menarik napas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara, menghembuskan
secara perlahan, melemaskan otot-otot tangan, kaki, perut, dan punggung, serta
mengulangi hal yang sama sambil terus berkonsentrasi sehingga didapat rasa nyaman,
tenang dan rileks.
c)
Stimulasi kulit
1. Menggosok dengan halus pada daerah nyeri
2. Mengggosok punggung
3. Menggunakan air hangat dan dingin
4. Memijat dengan air mengalir.
3) Pemberian obat analgesik, yang
dilakukan guna mengganggu atau memblok transmisi stimulus agar terjadi
perubahan persepsi dengan cara mengurangi kortikal terhadap nyeri. Jenis
analgesiknya adalah narkotika yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah dan
menimbulkan depresi pada fungsi vital, seperti respirasi, dan jenis bukan
narkotika yang paling banyak dikenal di masyarakat adalah aspirin,
asetaminofen, dan bahan anti inflamasi nonsteroid.
4) Pemberian stimulator listrik,
yaitu dengan memblok atau mengubah stimulus nyeri engan stimulus yang kurang dirasakan.
Bentuk stimulator metode stimulus listrik meliputi:
a) Transcutanius Elecstrital Stimulator (TENS), digunakan untuk mengendalikan stimulus manual daerah nyeri
tertentu dengan menempatkan beberapa elektrode di luar.
b) Percutaneus implanted spinal cord epidural stimulator, merupakan alat sum-sum tulang belakang dan
epidural yang diimplan di bawah kulit dengan transistor timah penerima yang
dimasukkan ke dalam kulit pada daerah epidural dan columna vertebrae.
c)
Stimulator
collumna vertebrae, sebuah stimulator dengan stimulus alat penerima
transistor dicangkok melalui kantong kulit intraklavicula atau abdomen, yaitu
elektroda ditanam melalui pembedahan pada dorsum sum-sum tulang belakang. 9
E. Evaluasi
Aspek penting dalam merawat pasien yang mengalami nyeri adalah mengkaji
kembali nyeri setelah intervensi diterapkan. Mengevalusi seberapa efektif tindakan
yang diterapkan didasarkan pada pengkajian nyeri pasien, seperti yang
dituangkan dalam perangkat pengkajian nyeri. Jika intervensi tidak efektif,
perawat harus mempertimbangkan tindakan lain. Jika tindakan ini juga tidak
efektif, tujuan-tujuan meredakan nyeri harus dikaji kembali dalam konsultasi
dengan dokter. Perawat bertindak sebagai advokat pasien dalam mendapatkan
tambahan pereda nyeri. Setelah intervensi
mengalami keberhasilan, pasien diminta untuk menilai intensitas
nyerinya. Pengkajian ini diulangi pada interval yang sesuai setelah intervensi
dan dibandingkan dengan nilai sebelumnya. Pengkajian ini menunjukkan
keefektidan tindakan pereda nyeri dan memberikan dasar untuk melanjutkan atau
memodifikasi rencana perawatan. Hasil-hasil yang diharapkan berikut ini
digunakan untuk mengkaji keefektifan tindakan pereda nyeri :
Hasil yang diharapkan:
1.
Pencapaian pereda nyeri
a. Nilai nyeri pada intensitas yang
lebih rendah (pada skala 0-10) setelah intervensi.
b. Nilai nyeri pada intensitas yang lebih
rendah untuk periode yang lebih panjang.
2. Pasien atau keluarga memberikan medikasi analgesic yang
diresepkan dengan benar.
a. Menyebutkan dosis obat yang
benar.
b. Memberikan dosis obat yang benar dengan
menggunakan prosedur yang benar.
c. Mengidentifikasi efek samping
obat.
d. Menjelaskan tindakan yang dilakukan
untuk mencegah atau mengoreksi efek samping.
3. Menggunakan strategi nyeri nonfarmakologik sesuai yang
direkomendasikan.
a.
Melaporkan praktik dari strategi nonfarmakologis.
b. Menggambarkan
hasil yang diharapkan dari strategi nonfarmakologis.
4. Melaporkan efek minimal nyeri dan efek samping minimal
dari intervensi.
a. Berpartisipasi dalam aktivitas
yang penting untuk penyembuhan (mis : minum, batuk, ambulasi)
b. Berpartisipasi dalam aktivitas yang
penting untuk diri sendiri dan keluarga (mis : aktivitas keluarga, hubungan
interpersonal, menjadi orangtua, interaksi sosial, rekreasi, pekerjaan).
c. Melaporkan tidur yang adekuat dan
tidak ada keletihan. 3
BAB IV
PENUTUP
A.
Simpulan
1. Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional
yang tidak menyenangkan
akibat dari kerusakan jaringan yang actual
atau potensial. Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau pengobatan.
Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan banyak orang dibanding suatu penyakit manapun.
2. Kenyamanan adalah konsep sentral
tentang kiat keperawatan. Donahue (1989) menyatakan ‘melalui rasa nyaman dan
tindakan untuk mengupayakan kenyamanan perawat memberikan kekuatan, harapan,
hiburan, dorongan dan bantuan bagi klien’. Dari pernyataan itu di dapat bahwa
kenyamanan merupakan kebutuhan dasar klien untuk perawat agar dapat membantu
tindakan keperwatan. Kenyamanan bersifat subjektif karena setiap individu
memiliki fisiologis, social, spiritual dan kebudayaan yang berbeda sehingga
mempengaruhi cara mereka untuk menginterprestasikan dan merasakan kenyamanan
tersebut.
3. Asuhan keperawatan pada nyeri dan kenyamanan meliputi
pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi
B.
Saran-saran
1. Hendaknya kita selaku mahasiswa keperawatan dapat
memahami dengan baik dan benar mengenai konsep nyeri dan kenyamanan agar lebih
memudahkan kita untuk mengaplikasikannnya dalam kehidupan sehari-hari kita
sebagai seorang calon tenaga kesehatan
2. Hendaknya kita dapat mengetahui konsep asuhan keperawatan
pada nyeri dan kenyamanan agar lebih memudahkan kita dalam membuat asuhan
keperawatan pada praktek lapangan nantinya.
